|
Situated at the historical commercial district of Pasar Baru and located in a restored Dutch colonial building, GFJA aims to be more than just an exhibition space. As a place of learning, a meeting point, and a cultural hothouse the gallery has often been described by visitors and members as a “community center” or even a “home”. This is because GFJA was the first and is still the only cultural establishment in Indonesia to institute the membership. Starting with only 10 friends and patrons in November 1994, GFJA is presently supported by approximately 1.000 members. This society is further supported by corporate sponsors, private donors and mass media.
Shortly, GFJA will accommodate the needs of photographers, journalists, and culture observers to have a representative place for sort of “rendez-vous” by extending exhibition space named Stop Press.
Berlokasi di distrik komersil bersejarah Pasar Baru dan mendiami gedung berarsitektur belanda, GFJA memiliki tujuan menjadi tempat lebih dari sekedar ruang pameran. Sebagai tempat belajar, tempat pertemuan, dan suatu ruang budaya, GFJA kerap kali digambarkan oleh pengunjung dan anggotanya sebagai “pusat komunitas” atau bahkan “rumah”. Hal ini dikarenakan GFJA adalah pionir institusi pengembang kebudayaan yang menjalankan system keanggotaan bagi komunitasnya. Dimulai dengan hanya 10 sahabat dan pelindung pada November 1994, saat ini GFJA didukung oleh sekitar 1.000 sahabat. Komunitas tersebut selanjutnya didukung oleh sponsor dari dunia bisnis, donor pribadi dan media massa.Dalam waktu dekat, GFJA akan mengakomodasi kebutuhan para fotografer, jurnalis, dan pengamat budaya, suatu tempat yang representative sebagai tempat “rendez-vous” dengan memperluas ruang pameran yang nantinya dinamakan “Stop Press”.
|
|
|
Last Updated ( Wednesday, 30 August 2006 )
|